<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ibnuilyas's Blog</title>
	<atom:link href="http://ibnuilyas.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ibnuilyas.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Nov 2008 12:48:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ibnuilyas.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ibnuilyas's Blog</title>
		<link>http://ibnuilyas.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ibnuilyas.wordpress.com/osd.xml" title="Ibnuilyas&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ibnuilyas.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KEDUDUKAN &#8216;ULAMA</title>
		<link>http://ibnuilyas.wordpress.com/2008/11/02/kedudukan-ulama/</link>
		<comments>http://ibnuilyas.wordpress.com/2008/11/02/kedudukan-ulama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Nov 2008 12:48:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuilyas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuilyas.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[KEDUDUKAN AL ‘ULAMA Posted by panpel under Taddabur No Comments Muqoddimah Melihat berbagai persoalan yang dihadapi oleh ummat manusia, mengingatkan kita untuk kembali mentelaah semuanya dengan kacamata al Qur-an dan atau al Hadits Shohih, “apa yang seharusnya dilakukan?” Dimana Allah pasti tidak akan lagi menurunkan RasulNya seperti dalam al Qur-an Surah Al- Ahzab Ayat 40 yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuilyas.wordpress.com&amp;blog=5341106&amp;post=3&amp;subd=ibnuilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="post-info">
<h2 class="post-title"><a title="KEDUDUKAN AL ‘ULAMA" rel="bookmark" href="http://mudzakarah.wordpress.com/2008/07/18/kedudukan-al-ulama/">KEDUDUKAN AL ‘ULAMA</a></h2>
<p>Posted by panpel under <a title="Lihat seluruh tulisan dalam Taddabur" rel="category tag" href="http://id.wordpress.com/tag/taddabur/">Taddabur</a><br />
<a title="Komentar pada KEDUDUKAN AL ‘ULAMA" href="http://mudzakarah.wordpress.com/2008/07/18/kedudukan-al-ulama/#respond">No Comments</a></div>
<div class="snap_preview">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Muqoddimah</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Melihat berbagai persoalan yang dihadapi oleh ummat manusia, mengingatkan kita untuk kembali mentelaah semuanya dengan kacamata al Qur-an dan atau al Hadits Shohih, “apa yang seharusnya dilakukan?” Dimana Allah pasti tidak akan lagi menurunkan RasulNya seperti dalam al Qur-an Surah Al- Ahzab Ayat 40 yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir dan penutup para Nabi. Selanjutnya ketika melihat al Qur-an Surah At-Taubah Ayat 33 dan al Hadits Shohih riwayat Muslim dari jalan Syadad bin Aus dan Tsauban<span> </span>yang pada intinya Allah menggambarkan bahwa pada akhir zaman pasti Dia tegakkan al Qur-an dan al Hadits Shohih sebagai Norma Hukum bagi seluruh ummat manusia dan semesta alam yang akhirnya<span> </span>manusia hanya terbagi menjadi dua golongan yaitu pertama mukmin yang dimuliakan Allah dan kafir yang dihinakan Allah. Maka yang menjadi pokok pertanyaan kita adalah, “siapa dan bagaimana menyongsong janji tersebut?”</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Allah SWT memberikan isyarat petunjuk dalam al Qur-an Surah Ash-Shof Ayat 14 dimana pada Ayat tersebut ada beberapa pokok penjelasan yaitu, pertama Nabi Isa Ibnu Maryam berkata “Siapakah penolong-penolongku kepada Allah” kalimat ini memberikan pengertian bahwa setelah para Rasul dan Nabi tidak diutus lagi dan hanya al Qur-an dan al Hadits Shohih sebagai bekalan, maka yang wajib bergerak untuk menjemput janjiNya adalah Al’Ulama dan Anshorullah.Dalam hal ini dijelaskan dalam al Qur-an Surah Fathir Ayat 28 dan al Qur-an Surah Asy-Syuro Ayat 13 Al ulama bekerja memandu dan menyeru ummat. Yang kedua ummat Islam secara umum bergerak menyambut seruan tersebut sebagai anshorullah. Sebagaimana sambutan hawariy kepada rasulullah Isa ,”Kami penolong diinullah”. Inilah yang disebut Muttabi atau pengikut setia Rasulullah yang siap menjadi Anshorullah, yang mereka ini harus mampu memenuhi apa yang disyaratkan Allah dalam<span> </span>Surah Al-Kahfi Ayat 28 dan 29 dimana disebutkan harus memiliki sikap teguh pendirian atau istiqomah dalam pola berjamaah dan pada al Qur-an Surah Al-Anfal Ayat 20 yaitu melakukan tansiq untuk menyatukan hati orang-orang yang beriman dalam suatu tandhim yang tertata dengan rapi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Kedua golongan inilah yaitu Al’Ulama dan Hawariy yang siap menjemput janji Allah akan keberlakuan HukumNya di muka bumi yang dilakui siang dan malam sampai akhir zaman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;font-weight:bold;">Pokok Kajian</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Sesungguhnya Allah telah memberikan petunjuk berupa gambaran dari satu sikap hamba Allah yang tidak terlena oleh berbagai permasalahan yang berkaitan dengan gejolak kehidupan duniawiyah, sebagaimana digambarkan dalam Surah An-Nur Ayat 37, yaitu :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em>“Para lelaki yang tidak dapat terlalaikan mereka itu oleh perniagaan dan jual beli terhadap mengingati<span> </span>Allah, dan mendirikan sholat dan membayarkan zakat (lantaran) mereka takut<span> </span>akan suatu hari (dimana) terjadi goncang pada waktu itu, hati dan pandangan”</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ayat tersebut bila dihubungkan dengan ayat sebelum dan sesudahnya, sangat jelas menggambarkan tentang sikap “Al’Ulama”<span> </span>yang senantiasa berupaya menepati tugas dan tanggung jawabnya dalam menjunjung tinggi Kalimatullah. <span lang="FI">Oleh karena itu, maka Rasulullah menjelaskan dalam haditsnya mengenai dua macam kedudukan Al ‘Ulama. Pertama, ‘Ulama itu adalah pemegang amanah Allah atas makhluqNya yang menjelaskan<span> </span>al Qur-an Surah Fathir Ayat 28. Kedua,<span> </span>Al ‘Ulama sebagai pemegang amanah para Rasul dengan dalil Surah Asy-Syuro Ayat 13. Sehingga dengan kedudukan ini Al ‘Ulama akan senantiasa berupaya untuk mematuhi dan menepati batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Rasulullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span style="font-weight:bold;">Pembahasan</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Bahwa sebenarnya “Al’Ulama” adalah hamba Allah yang faqir, artinya senantiasa berharap keridhoan Allah dalam segala kiprah hidupnya untuk menepati pengabdiannya. Berarti kepribadiannya sudah harus terukur, sebagaimana dijelaskan dalam Surah At-Taubah Ayat 24, bahwa mereka itu “cinta kepada Allah, RasulNya dan Jihad di jalanNya diatas segalanya”. Inilah tatanan kepribadian utama yang membuat<span> </span>Al’Ulama disebut Al’Arif dan Al’Khowasy. Kemudian hal ini memunculkan sikap ketulusan hati dalam ketha’atan, sehingga berupaya sekuat mungkin menepati perintah Allah dengan tidak akan pernah mencampur-adukkan antara yang haq dengan yang bathil.<span> </span>Sikap inilah yang dicantumkan Allah di dalam Surah Al-Baqoroh Ayat 42.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="FI">“Dan janganlah mencampur-adukkan al haq dengan yang bathil, dan kamu</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><em><span lang="FI"><span> </span>menyembunyikan al haq sedangkan kamu mengetahui”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Muatan makna dari ayat ini antara lain:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span style="font-weight:bold;">A.</span> Al’Ulama dituntut kemampuannya dalam memahami beberapa batasan dari Allah, antara lain adalah ketetapan Allah untuk memiliki “hija-ban mastu-ro” (dinding pembatas atau pembeda) yang dinyatakanNya dalam Surah Al-Isro Ayat 45. Maka dengan itu akan berkemampuan menjelaskan berbagai perbedaan sifat (antagonistic) antara dinul Islam- dari dan milik Allah, dengan system hidup buatan manusia. Diantaranya perbedaan antara Asy-Syiyasah dengan Politik yang merupakan produk fikiran manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span style="font-weight:bold;">B. </span>Berdasarkan Surah Al-Anfal Ayat 24 bahwa dituntut kemampuannya dalam mewaspadai diri, terhadap keberadaan potensi nafsu dan al`aqlu, yang antara keduanya ada pembatas. Nafsu adalah tempat atau intuisi yang sangat potensial bagi bisikan syaithon. Sedangkan al`aqlu adalah intuisi bagi suara wahyu. Artinya dalam menerima perintah dari al Qur-an harus menempatkannya dalam al`aqlu bukan dilandasi nafsu. Dengan adanya kontrol diri ini maka al ‘Ulama akan dapat melakukan pengkondisian terhadap ummat Islam ke arah yang benar, agar mereka tidak terpengaruh oleh bisikan nafsu angkara murka yang dijelaskan Surah Yusuf Ayat 53. Maka dengan ini akan tampaklah bahwa sesungguhnya Islam itu<span> </span>mengutamakan cinta kasih terhadap ummat manusia, karena masalah manusia adalah topik utama dalam al Qur-an sebagaimana panduan dalil Surah Al-Maidah Ayat 32.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI"><span> </span>Manakala hal tersebut telah difahami, maka dengan berpedoman pada Kaidah Menejemen al Qur-an yang dijelaskan Surah Al-Furqon Ayat 52 serta wujud dari menejemen al Qur-an yang dijelaskan juga pada Surah Al-An’am Ayat 153, secara jelas al ‘Ulama akan mampu memberikan jalan keluar kepada Ummat Islam ketika mereka dihadapkan dengan beberapa kenyataan, antara lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">1. Dalam kehidupan global (ma-adina), dipastikan setiap Negara di dunia telah mengalami proses “integrasi” atau<span> </span>penyatuan dalam berbagai kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">2. Dalam hubungan antar bangsa secara pasti terjadi proses “interdependency”,<span> </span>yaitu terjadi saling ketergantungan dalam hal saling memberi dan menerima, antara lain dalam hal warna peradaban.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Mengatasi hal tersebut, jelas tidak mungkin bisa menemukan antisipasinya, selama para ‘Ulama hanya berfikir sebatas “rumah tangganya”, -<span> </span>maksudnya sebatas negerinya masing-masing -red. Karena yang dihadapi Ummat Islam adalah sembilan aktor intellectual yang dimotori oleh “system Mafia” yang dijelaskan oleh Allah pada Surah An-Namj Ayat 48 dan 49; Padahal kesemuanya permasalahan itu tanggung jawabnya telah Allah dan RasulNya tetapkan kepada “Al’Ulama”. Disatu sisi Allah telah berjanji akan kemenangan Islam di Akhir zaman yang mesti disongsong sebagaimana ditetapkanNya dalam al Qur-an Surah At-Taubah Ayat 33.-</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span>Oleh karena itu dengan adanya perintah Allah yang ditujukan kepada para ‘Ulama dimana mereka dituntut kesiapannya untuk melakukan “Ittifa-qul ‘Ulama” sebagaimana tersebut dalam al Qur-an Surah Al-Baqoroh Ayat 208 dengan istilah lain “kesepakatan ‘Ulama”, yang diprakarsai Dewan Perancang dan Panitia Pelaksana atau anshorullah menurut al Qur-an Surah Ash-Shof Ayat 14 dengan melalui proses “Mudzakarah ‘Ulama”.- <span style="font-style:italic;">InsyaAllah.</span></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuilyas.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuilyas.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuilyas.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuilyas.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuilyas.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuilyas.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuilyas.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuilyas.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuilyas.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuilyas.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuilyas.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuilyas.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuilyas.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuilyas.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuilyas.wordpress.com&amp;blog=5341106&amp;post=3&amp;subd=ibnuilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuilyas.wordpress.com/2008/11/02/kedudukan-ulama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f3451933cbcc849e32375938157e1ea?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SEJARAH MUDZAKARAH ULAMA ABAD KE 17</title>
		<link>http://ibnuilyas.wordpress.com/2008/10/30/sejarah-mudzakarah-ulama-abad-ke-17/</link>
		<comments>http://ibnuilyas.wordpress.com/2008/10/30/sejarah-mudzakarah-ulama-abad-ke-17/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Oct 2008 04:57:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ibnuilyas</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ibnuilyas.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” ( Qs 3:137 ) ABSTRAK Pada bulan Agustus 2007 lalu Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu membentuk Tim Pelacakan Sejarah. Tugasnya adalah menemukan fakta apakah benar pada abad ke 17 masehi telah berkumpul para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuilyas.wordpress.com&amp;blog=5341106&amp;post=5&amp;subd=ibnuilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if !mso]&gt; &lt;!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} --> <!--[endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:HQPB4; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:HQPB1; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:HQPB5; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:HQPB2; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-charset:2; 	mso-generic-font-family:auto; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:0 268435456 0 0 -2147483648 0;} @font-face 	{font-family:"\(normal text\)"; 	panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; 	mso-font-alt:"Times New Roman"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-format:other; 	mso-font-pitch:auto; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 216.0pt right 432.0pt; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:21.0cm 842.0pt; 	margin:2.0cm 2.0cm 2.0cm 2.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1049764830; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:2052509960 -1008576664 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:3.15pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:39.15pt; 	text-indent:-18.0pt; 	font-family:"Times New Roman";} @list l1 	{mso-list-id:1578638198; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1776745460 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt;} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:center;text-indent:-18.7pt;" align="center"><strong><span lang="SV"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><strong><span lang="SV"> </span></strong><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span lang="AR-SA"><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:-.7pt;line-height:150%;"><em><span style="font-family:&quot;">“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;line-height:150%;"><span style="font-size:10pt;line-height:150%;font-family:&quot;">( Qs 3:137 )</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:center;text-indent:-18.7pt;" align="center"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:center;text-indent:-18.7pt;" align="center"><strong><span lang="SV">ABSTRAK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><strong><span style="font-size:10pt;" lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Pada bulan Agustus 2007 lalu Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu membentuk Tim Pelacakan Sejarah. Tugasnya adalah menemukan fakta apakah benar pada abad ke 17 masehi telah berkumpul para ’Ulama di Sumatera Selatan untuk bermudzakarah? Sejumlah pertanyaan penting yang harus dijawab antara lain : apa latar belakangnya mudzakarah tersebut; siapa saja tokohnya; dimana lokasinya; dan apa isi mudzakarah tersebut; hasil-hasilnya; serta pengaruhnya terhadap ummat Islam khususnya di Rumpun Melayu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"><span> </span>Untuk menjawab berbagai pertanyaan awal di atas, maka dalam tim ini dibentuk dua bidang tugas. Pertama, bertugas untuk menggali fakta dari literatur atau tulisan sejarah di buku, internet, serta asip-arsip kuno di perpustakan dan di masyarakat. Kedua, melalui wawancara langsung dengan pakar sejarah dari Perguruan Tinggi, Musium Purbakala, serta tokoh masyarakat yang merupakan keturunan dari pelaku sejarah. Juga dilakukan tinjauan langsung ke lokasi sejarah di daerah Perdipe. Tim ini bekerja sekitar dua bulan sejak dibentuk. Kemudian hasil penelitian ini telah disampaikan pada Musyawarah Pleno ke 1 DP3MU September 2007 lalu di Auditorium Yayasan AKUIS Pusat, Banyuasin, Sumatera Selatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Berdasarkan Hasil Pelacakan Sejarah yang telah dilakukan, maka ada beberapa bukti sejarah yang ditemukan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-14.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu sekitar 50 ’Ulama di Perdipe, Sumatera Selatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-14.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Mereka berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera,<span> </span><span> </span>Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-14.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Hasil Mudzakarah ini memunculkan perluasan dakwah Islam yang berakibat terkikisnya faham anismisme dan budaya jahiliyah di masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-14.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Munculnya kader-kader mujahid yang mengadakan perlawan terhadap penjajah Eropa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-14.85pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Terjadinya perluasan wilayah Islam yang ditandai dengan munculnya Kesultanan yang baru yang masing-masing saling bekerjasama secara baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><strong><span lang="SV">A. Siapakah Tokoh Sentral pada Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu abad 17 M</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Berdasarkan arsip kuno berupa </span><strong><span lang="SV">kaghas</span></strong><span lang="SV"> (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta), ada beberapa catatan sejarah. Bahwa pada tahun 1072 Hijriyah<span> </span>atau 1650 Masehi telah ada seorang tokoh ’Ulama yang bernama </span><strong><span lang="SV">Syech Nurqodim al-Baharudin</span></strong><span lang="SV"> yang bergelar </span><strong><span lang="SV">Puyang Awak </span></strong><span lang="SV">yang mendakwahkan Islam di daerah dataran Gunung Dempo Sumatera Selatan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Menurut buku <em>”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang</em>”, Terbitan Pustaka Dzumirah, Karya TG.KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, dinyatakan bahwa pada abad ke 14 – 17 Masehi, kaum Imperialis dan Kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) telah merompak di lautan dan merampok di daratan yang diistilahkan dalam bahasa melayu, yaitu<em> mengayau.</em> Mereka dengan taktik <em>devide et impera</em> berusaha memecah-belah penduduk di Rumpun Melayu yang berpusat di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka. Maka para waliullah di daerah tersebut dengan dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 M / 1072 H menggelar musyawarah yang berpusat di Perdipe (Sekarang masuk wilayah Kota Pagar Alam, Dataran Gunung Dempo, Sumatera Selatan). Tujuan musyawarah ini antara lain guna menyusun kekuatan bagi persiapan perang bulan sabit merah untuk menumpas ekspansi perang salib di Asia Tenggara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Masih menurut beliau, bahwa kosa kata ”belanda” konon adalah sebutan bahasa melayu untuk orang netherlands. Kata belanda berasal dari dua suku kata ”<em>belah</em>” (memecah) dan ”<em>nde</em>” (keluarga), maknanya ”tukang memecah-belah keluarga”.<span> </span>Berbeda maknanya dengan kata ”<em>semende”</em> dari dua suku kata <em>”same” </em>(satu) dan <em>”nde”</em> (keluarga), maka maknanya ”satu keluarga” yaitu persaudaraan mukmin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">B. Siapakah Syech Nurqodim al-Baharudin</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Syech Nurqodim al-Baharudin adalah cucu dari Sunan Gunung Jati dari Putri Sulungnya Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang. Syech Nurqodim al-Baharudin kecil, beserta ketiga adiknya dididik dengan aqidah Islam dan akhlaqul karimah oleh orang tuanya di Istana Plang Kedidai yang terletak di tepi Tanjung Lematang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Sewaktu remaja beliau digembleng oleh para ’Ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya. Ketika tiba masanya menikah beliau menyunting gadis dari Ma Siban (Muara Siban), sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang memiliki situs Lempeng Batu berukir Hulu Balang menunggang Kuda dengan membawa bendera Merah Putih (<em>lihat buku ”5000 tahun umur merah putih” karya Mister Muhammad Yamin).</em> Setelah bermufakat, beliau sekeluarga beserta adik-adiknya, keluarga dan sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh, sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi Pusat Daerah Semende.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Menurut salah seorang keturunan beliau yang masih ada sekarang-<em>TSH Kornawi Yacob Oemar</em>-, dalam sebuah makalahnya dinyatakan bahwa, Syech Baharudin adalah pencipta adat Semende. Sebuah adat yang mentransformasi perilaku rumah tangga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga pencetus falsafah ”<em>jagad besemah libagh semende panjang”, </em><span> </span>yaitu ”Negara Demokrasi” pertama di Nusantara (1479-1850). Akan tetapi ”negara” itu runtuh akibat peperangan selama 17 tahun (1883-1850) malawan kolonial Belanda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Sebelum ke Tanah Besemah, Syech Baharudin bermukim di Pulau Jawa dan hidup satu zaman dengan Wali Songo. Beliau sangat berpengaruh di <span> </span>bahagian tengah dan selatan Pulau Jawa. Sedangkan Wali Songo pada masa sebelum berdirinya Kerajaan Bintoro Demak memiliki pengaruh di Pantai Utara Pulau Jawa. Tertulis dalam Kitab <em>Tarikhul Auliya</em>, bahwa untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa-yaitu Demak, maka ada 16 orang wali bermusyawarah di Masjid Demak termasuk pula Syech Baharudin dan beberapa wali dari Pulau Madura.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Dalam musyawarah itu Sunan Giri menginginkan agar dibentuk suatu negara Kerajaan dengan mengangkat Raden Fatah sebagai raja atau sulthan dengan alasan negara baru tersebut tidak akan diserbu balatentara Majapahit, mengingat Raden Fatah adalah anak dari raja Majapahit. Konon dari 16 wali tersebut, 9 orang yang mendukung pendapat ini dan tujuh orang yang berbeda pemahaman dalam strategi dakwahnya termasuk Syech Baharudin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Syech Baharudin atau Puyang Awak menginginkan suatu daulah seperti Madinah al Munawarah pada masa Rasulullah SAW. Namun demi menjaga persatuan ummat Islam yang kala itu jumlah belum banyak, beliau memutuskan untuk hijrah atau <em>melayur</em> ke Pulau Sumatera. Dari tanah Banten beliau menyeberang ke Tanjung Tua-ujung paling selatan Pulau Sumatera-. Kemudian menyusuri pesisir timur, yaitu daerah Ketapang-Menggala-Komering-Palembang-Enim dan Tiba di Tanah Pasemah lalu menetap disana tepatnya di Perdipe.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Disepanjang perjalanan, sebagai seorang<span> </span>mubaligh beliau selalu mendatangi tempat-tempat dimana masyarakat masih belum mengenal agamaTauhid dan akhlaqul qarimah, untuk mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam dengan metode yang sangat sederhana yaitu mempergunakan kultur budaya masyarakat setempat sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Dalam kehidupan bermasyarakat beberapa suku di perdalaman Sumatera Bagian Selatan, Puyang Awak adalah penyebar agama Islam yang sangat kharismatik. Nama beliau menjadi legenda dari generasi ke generasi terutama sikap beliau yang menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang yang sangat tinggi terhadap semua makhluk ciptaan Allah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Di tanah Pasemah pada waktu itu, Puyang Awak melihat pola hidup masyarakat sangat jauh dari kehidupan yang Islami.Adanya praktek-praktek perbudakan dikalangan masyarakat, perampokan dan penjarahan bahkan penculikan terhadap wanita dan anak-anak dari suku-suku lain disekitar Basemah [dalam bahasa basemah disebut ’nampu’] untuk dijadikan budak [dalam bahasa pasemah disebut ’pacal’], dianggap suatu kebanggaan. Bahkan ada satu keluarga besar yang memiliki ratusan ekor kerbau dan sapi serta puluhan orang pacal, pada waktu ia mengadakan suatu pesta pernikahan anaknya, dengan pesta besar-besaran dengan menyembelih puluhan ekor sapi dan kerbau. Untuk menambah ’kebanggaan’ dari keluarga tersebut, maka diumumkan bahwa yang punya hajatan juga akan ’menyembelih seorang pacal’. Suatu bentuk kedzaliman yang melebihi perbuatan kaum jahiliyah Suku Quraisy di Kota Mekkah pada zaman Nabi Muhammad SAW. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Pola hidup masyarakat Basemah yang liar, zalim, dan biadab seperti itu, bukan hanya diceritakan kembali secara turun-tumurun dari generasi ke generasi, melainkan tercatat pula pada tulisan-tulisan kuno aksara <em>ka-ga-nga</em> yang dijadikan benda-benda pusaka oleh tua-tua adat dari suku-suku sekitar Basemah, antara lain di<span> </span>daerah Enim. Intinya memperingatkan warga agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap kedatangan para perampok dari Basemah yang sering menjarah harta benda serta menculik wanita dan anak-anak mereka. Bahkan selain itu </span><strong><span lang="SV">Marco Polo</span></strong><span lang="SV"> [abad 12 masehi], membuat catatan khusus tentang Basemah yang berbunyi..<em>’Basma, where the people’s like a beast withuot law or religion&#8230;.’ </em>[basemah, penduduknya bagaikan binatang buas, tanpa aturan atau agama ]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Puyang Awak yang memperhatikan kehidupan suku Basemah yang liar, zalim tanpa hukum dan agama tersebut, justru berpendapat bahwa di tanah basemah inilah tempat yang tepat untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan Allah SWT<span> </span>kepada Nabi Muhammad SAW, untuk meng-agama-kan masyarakat yang belum beragama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Akan tetapi perlu kita fahami bahwa metode yang dipergunakan oleh Puyang Awak dalam menyebarkan ajaran Islam yang mendasar tersebut, tidak mempergunakan bahasa Arab, melainkan beliau rumuskan kedalam bahasa Pasemah yang cukup dikenal sampai saat ini yaitu ’falsafah </span><strong><span style="text-decoration:underline;"><span lang="SV">GANTI nga TUNGGUAN </span></span></strong><span lang="SV"><span> </span>[Akhlakul Karimah].</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">C. Hubungan Darah Syaikh Baharudin dengan Sunan Gunung Jati</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Mengutip dari buku ”<em>Kisah Walisongo</em>”, Karya Baidhowi Syamsuri, terbitan Apollo Surabaya didapatkan data sebagai berikut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Adalah dua orang putra Prabu Siliwangi bernama Pangeran Walang Sungsang dan Putri Rara Santang belajar Dinul Islam kepada Syaikh Idlofo Mahdi atau Syaikh Dzathul Kahfi-seorang Ulama dari Baghdad yang menetap di Cirebon dan mendirikan Perguruan Islam. Karena kedua anak Raja Siliwangi tersebut tidak mendapat izin dari sang ayah, maka mereka melarikan diri ke Gunung Jati untuk belajar tentang Islam. Setelah cukup lama menuntut ilmu, keduanya diperintahkan sang syaikh untuk membuka hutan di selatan Gunung Jati yang kemudian dijadikan pedukuhan yang akhirnya menjadi ramai. Tempat ini kemudian dinamakan ”Tegal Alang-Alang” dan Pangeran Walang Sungsang diberi gelar ”Pangeran Cakra Buana” serta<span> </span>diangkat sebagai pimpinannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Syaikh Kahfi atau Datuk Kahfi memerintahkan kepada kedua muridnya tersebut untuk menunaikan haji ke Mekkah dilanjutkan dengan belajar Islam kepada Syaikh Bayanillah. Akhirnya Rara Santang menikah dengan seorang penguasa Mesir keturunan Bani Hasyim yang bernama Sultan Syarif Abdullah-dikenal juga dengan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda. Rara Santang namanya diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra, Syarif Hidayatullah dan adiknya Syarif Nurullah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Setelah Sultan Syarif Abdullah wafat, kedudukannya digantikan oleh putra keduanya Syarif Nurullah, karena putra pertamanya Syarif Hidayatullah tidak suka naik takhta dan lebih memilih pulang ke tanah Jawa beserta ibunya untuk mendakwahkan Islam. Syarif Hidayatullah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati yang bersama-sama Senopati Demak Bintoro, yaitu Fatahillah yang melakukan penyerangan dan pengusiran Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Sedangkan Pangeran Cakra Buana setelah tinggal tiga tahun di Mesir kembali ke Jawa dan mendirikan negeri baru yaitu </span><strong><span lang="SV">Caruban Larang</span></strong><span lang="SV">. Prabu Siliwangi sebagai penguasa Jawa Barat telah merestui tampuk pemerintahan putranya ini dan memerinya gelar ”Sri Manggana”.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Gunung Jati telah sampai ke negeri Cina, dimana terdapat undang-undang yang melarang rakyatnya memeluk Islam. Disana beliau membuka praktek sistem pengobatan. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan sholat. Orang cina kemudian mengenalnya sebagai <em>sinshe</em> dari jawa yang sakti dan berilmu tinggi. Akhirnya banyak diantara penduduknya memeluk Islam, termasuk seorang menteri Cina bernama </span><strong><span lang="SV">Pai Lian Bang. </span></strong><span lang="SV">Bahkan Kaisar Cina meminta Sunan Gunung Jati untuk menikahi putrinya yang bernama </span><strong><span lang="SV">Ong Tien. </span></strong><span lang="SV">Sunan Gunung Jati tidak mau mengecewakan sang kaisar, maka pernikahan tersebut dilangsungkan, kemudian ia pulang ke Jawa beserta Ong Tien.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Keberangkatannya ke Jawa dikawal dua Kapal Kerajaan yang dikepalai murid Sunan Gunung Jati, Pai Lian Bang. Kapal yang ditumpangi oleh Sunan Gung Jati berangat lebih dahulu dan singgah di Sriwijaya karena tersiar kabar bahwa adipati Sriwijaya yang berasal dari Majapahit bernama </span><strong><span lang="SV">Ario Damar </span></strong><span lang="SV">atau </span><strong><span lang="SV">Ario Abdillah</span></strong><span lang="SV"> (nama Islamnya) telah meninggal dunia. Makam beliau dapat kita lihat sampai sekarang di Jalan Ariodillah Palembang. Sedangkan Ario Abdillah ini adalah anak tiri dari Fatahillah. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Karena kedua putra dari Ario Abdillah telah menetap di Jawa, maka Sunan Gunung Jati mengharapkan agar rakyat Sriwijaya berkenan mengangkat Pai Lian Bang sebagai adipati supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pai Lian Bang tidak menolak atas pengangkatannya, ia berkata : <em>”&#8230;seandainya bukan Sunan Gunung Jati sebagai guruku yang menyuruhku, maka aku tidak akan mau diangkat menjadi adipati&#8230;”.</em> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:27pt;"><span lang="SV">Dengan bekal ilmu selama menjadi menteri di Cina, Pai Lian Bang berhasil membangun Sriwijaya. Pesantren dan madrasah benar-benar dikembangkannya dan beliau menjadi Guru Besar dalam Ilmu Ketatanegaraan. Murid-muridnya cukup banyak yang datang dari Pulau Jawa dan Sumatera <span> </span>termasuklah seorang cucu Sunan Gunung Jati dari Putrinya Panembahan Ratu yang dinikahi oleh Danuresia (Empu Eyang Dade Abang) yang bernama Syaikh Nurqodim al Baharudin (di Sumatera Selatan dikenal dengan Puyang Awak). Pada akhirnya setelah Pai Lian Bang wafat, Sriwijaya diganti nama menjadi </span><strong><span lang="SV">PALEMBANG</span></strong><span lang="SV"> yang diambil dari nama </span><strong><span lang="SV">PAI LIAN BANG.</span></strong><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:-18.7pt;"><strong><span lang="SV">D. Latar Belakang Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu Tempo Dulu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:18.7pt;text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV">Setiap ’Ulama yang shohih dapat dikenali langkah-langkahnya yang senatiasa menyusuaikan dengan panduan Al Qur-an dan Sunnah Rasulullah saw. Demikian pula analisis kami terhadap gerakan yang dibangun Syaikh Nurqodim al-Baharudin. Dengan segala keterbatasannya selaku manusia biasa dan dengan kesemangatannya selaku hamba Allah yang diberi amanah ke’Ulamaan, beliau telah berupaya membangun tata kehidupan masyarakat madani yang di contohkan Rasulullah Muhammad saw. Inilah latar belakang pokok mudzakarah tersebut yaitu ingin mewujudkan tata kehidupan masyarakat yang diatur dengan Syariat Dinullah dengan panduan dari RasulNya. Beliau tidak bermaksud membangun kekuasan dengan sistem kerajaan. Namun masyarakat madani yang tunduk pada kepemimpinan Allah dan RasulNya dengan ’Ulama sebagai Ulil Amrinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV">Kemudian dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan Islam di Eropa, Afrika, Asia, hingga wilayah Nusantara memberikan peluang yang besar kepada para ’Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia, sehingga memberi corak tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Terciptanya kestabilitasan dan perbaikan sistem kehidupan yang meliputi aspek sosial, budaya, ekonomi, pemerintahan dan keamanan, militer dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu <em>effect</em> positif penyebaran melalui Dakwah dan Jihad.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV">Di Rumpun Melayu, khususnya setelah terjadi kekosongan kekuasaan<strong> </strong><span>di wilayah Sumatera S</span>elatan akibat runtuhnya kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit, dan terjadinya peralihan kekuasaan dari kerajaan Demak ke Pajang dan Mataram, sementara di wilayah Besemah (Pagaralam) masyarakat mengalami <em>disintegrasi </em>nilai-nilai kebudayaan yang mengakibatkan terciptanya kekacauan dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan sehingga mereka kehilangan norma dan aturan yang mengatur tatanan kehidupan sosial. Hal ini yang menjadi faktor kedua dan mengilhami proses penyebaran Islam di wilayah Besemah dan Semendo oleh para ’Ulama melalui proses mudzakarah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV">Demikianlah dua latar pokok munculnya pertemuan ’Ulama pada masa itu, yaitu <em>ittiba</em> kepada panduan Allah dan RasulNya dengan gambaran dalilnya antara lain Surah Al-Anfal Ayat 72, mengenai perintah iman, hijrah dan jihad. Selanjutnya kedua, yaitu kondisi dunia dan ummat yang menghendaki para ’Ulama agar bersepakat mengangkat Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="SV">E. Lokasi dan Hasil Keputusan Mudzakarah ’Ulama Tempo Dulu</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV">Keberadaan dan kegiatan dakwah yang dilakukan beliau, lama-kelamaan mulai tersebar. Bahwa di daerah Batang Hari Sembilan telah ada seorang aulia yang bernama Syaikh Nur Qodim Al Baharudin. Banyaklah penghulu agama atau pemuka agama dari berbagai daerah berdatangan memenuhi ajakan Puyang Nur Qodim untuk bermukim di Talang Tumutan Tujuh akhirnya diresmikanlah oleh Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang menjadi ”dusun Paradipe” (para penghulu agama) tahun1650 M atau 1072 H sekarang dinamakan dusun Tue. Dari perluasan daerah inilah disebut wilayah jagad Semende Panjang Basemah Libagh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Kegiatan pembukaan wilayah oleh Syaikh al Baharudin antara lain :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Pembukaan dusun dan Wilayah Pertanian Pagaruyung yang dipimpin oleh Puyang Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Tanah Minang Kabau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span lang="SV"><span>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span lang="SV">Pembaharuan dusun serta pemekaran Wilayah Peghapau yang dipimpin oleh Puyang Prikse Alam, dan Puyang Agung Nyawa beserta Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina yang nama aslinya Ong Gun Tie</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembukaan Dusun dengan pemukiman di dusun Muara Tenang oleh Putra Sunan Bonang dari Jawa. Di Tanjung Iman oleh Puyang Same Wali, di Padang Ratu oleh Puyang Nakanadin, di Tanjung Raye oleh Puyang Regan Bumi dan Tuan Guru Sakti Gumai serta di Tanjung Laut oleh Puyang Tuan Kacik berpusat di Pardipe</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pemekaran pembukaan wilayah Marga Semende, Muare Saung dan Marga Pulau Beringin<span> </span>sekarang dikenal dengan Ogan Komering Ulu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembukaan wilaya Marga Semende Ulu Nasal dan Marga Semende Pajar Bulan Segirin Bengkulu</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:36pt;text-align:justify;text-indent:-18pt;"><!--[if !supportLists]--><span>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Pembukaan dusun dan wilayah pertanian di Lampung yakni Marga Semende Waitenang, Marga Semende Wai Seputih, Marga Semende Kasui, Marga Semende Peghung dan Marga Semende Ulak Rengas (Raje Mang Kute) Muchtar Alam..</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Pendiri Adat Semende</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">1. a. Ratu Agung Umpu Eyang Dade Abang (Bapak Nur Qodim – Puyang Awak).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span><span> </span>b. Puyang Awak Syaikh Nurqodim Al Baharudin</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">2. Puyang Mas Penghulu Ulama Panglima Perang dari Gheci Mataram Jawa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">3. Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau (Sumatera Barat).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">4. Puyang Sang Ngerti Penghulu Agama dari Tebing Rindu Ati Bangkahulu (Bengkulu).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">5. Puyang Perikse Alam dari Lubuk Dendan Mulak Basemah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">6. Puyang Agung Nyawe.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">7. Puyang Lurus Sambung Ati dari gunung Puyung Banten Selatan-Jawa Barat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">8. Tuan Kuase Raje Ulie Depati Penanggungan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">9. Puyang Lebi Abdul Kahar dari Pulau Panggung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">10. Tuan Mas Pangeran Bonang Muara Tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">11. Regan Bumi Nakanadin samewali Tanjung Raya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">12. Tuan Kecil dari <span> </span>Tanjung Laut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV">Mengenai hasil keputusan yang di dapat, antara lain adalah munculnya rumusan kesepakatan ’Ulama mengenai tahapan waktu kaderisasi ummat dan masa tegaknya daulah Islam di Rumpun Melayu. Rumusan ini menggunakan bahasa melayu setempat yang tercatat sampai saat ini dan mengandung pesan yang amat kuat, yaitu <em>”Tujuh Ganti Sembilan Gilir”</em>. Terjemahnya adalah tujuh generasi dan sembilan masa pergiliran Kesultanan”. Satu generasi adalah sekitar 40 tahun sehingga makna <em>tujuh ganti</em> adalah 280 tahun masa pengkaderan atau persiapan ummat ummat Islam untuk bangkit dan mengusir penjajah dari Eropa. Terbukti sekitar 300 tahun kemudian dari tahun 1650 penjajah belanda angkat kaki dari negeri ini. Kemudian Kesultanan Mataram sebagai pusat komunikasi dari kesultanan lain di rumpun melayu diberi batas amanah sampai ke<span> </span>9 kepemimpinan untuk selanjutnya menegakkan Syariat Islam secara total.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV">Data mengenai ’Ulama yang hadir antara lain 40 ulama Malaka yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib dan beberapa utusan lain dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumpun Melayu lainnya. Lokasi Mudzakarah Ulama ini adalah di Dusun Perdipe (Para Dipo; para penghulu agama).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV">Demikianlah sekelumit data yang diperoleh, setelah dilakukan eksplorasi data literatur dan lapangan. Namun demikian segala sumber keterangan apabila bukan bersumber selain Al Qur-an akan ditemui <em>ikhtilaf</em> (perbedaan) seperti yang dijelaskanNya dalam <strong>Surah An-Nisa Ayat 82.</strong> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB4;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB1;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB5;" dir="ltr"><span></span></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span> </span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span style="font-size:14pt;font-family:HQPB2;" dir="ltr"></span><span dir="ltr"></span><em><span style="font-family:&quot;">“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><span lang="SV">Maka kami pun membuka segala kesempatan untuk melengkapi, mengkoreksi dan meluruskan data sejarah ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:28.05pt;"><em><span lang="SV"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME%7E1/pmu/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image002.jpg" alt="" width="407" height="305" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kunjungan panitia pelaksana ke desa Perdipe Pagaralam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME%7E1/pmu/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image004.jpg" alt="" width="408" height="305" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Maket rencana pembangunan kembali Masjid Puyang Awak desa Perdipe Pagar Alam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"><br />
<!--[if gte vml 1]&gt;  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><img src="/DOCUME%7E1/pmu/LOCALS%7E1/Temp/msohtml1/01/clip_image006.jpg" alt="" width="408" height="305" /><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Masjid Puyang Awak Desa Perdipe Pagar Alam</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ibnuilyas.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ibnuilyas.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ibnuilyas.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ibnuilyas.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ibnuilyas.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ibnuilyas.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ibnuilyas.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ibnuilyas.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ibnuilyas.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ibnuilyas.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ibnuilyas.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ibnuilyas.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ibnuilyas.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ibnuilyas.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ibnuilyas.wordpress.com&amp;blog=5341106&amp;post=5&amp;subd=ibnuilyas&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ibnuilyas.wordpress.com/2008/10/30/sejarah-mudzakarah-ulama-abad-ke-17/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/0f3451933cbcc849e32375938157e1ea?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">ibnuilyas</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
